Aglaonema Terbaik Indonesia

Filed in Topik by on 01/04/2009 0 Comments

Teknik Edward Ekayono merawat sri rejeki terbilang spektakuler. Lazimnya aglaonema dirawat di dalam rumah tanam dengan jaring peneduh berkerapatan 70% menyelimuti atap dan dinding. Jadi nyaris tak ada cahaya matahari langsung menerobos masuk. Paparan cahaya matahari langsung membuat daun terbakar. Penggunaan plastik hanya di atap untuk menangkis guyuran hujan. Dinding tanpa plastik sehingga udara bebas keluar-masuk.

Yang dilakukannya di lantai 4 itu justru kebalikannya. Ruangan di puncak ruko itu terpapar sinar matahari penuh pada pukul 08.00-09.00 dan 15.00-16.00. Toh tiara, hot lady-pun harlequin, sexy pink, dan tamara-hidup sentosa. Sebagai bukti, Edward alias Aseng membongkar masing-masing sepot hot lady dan tiara. Begitu media dibuang, terlihat segerombol rambut akar yang gemuk berwarna putih. Akar-akar sehat itu optimal memasok air dan nutrisi ke daun sehingga tanaman tumbuh subur.

Warna daun memang memucat, tapi tanaman sarat anakan. Satu induk menggendong minimal 6-8 anakan yang siap pisah dari induk dalam 6 bulan. Rata-rata membawa 4-6 daun seukuran induk. Padahal tiara, misalnya, biasanya hanya menghasilkan 3 anakan. Setelah panen perdana pada Desember 2008, pria yang baru 1 tahun mengenal aglaonema itu siap-siap menurunkan 100 anakan pada Mei 2009. Harga sepot anakan minimal Rp400.000-Rp600.000.

Ekstrim

Aseng mengadopsi teknik nyeleneh itu dari Songgo Tjahaja, pemain di Cengkareng, Jakarta Barat. Perlakuan Songgo malah lebih ekstrim. Setiap pagi pemain valuta asing itu menjemur tiara, harlequin, sexy pink, dan reanita-sekadar menyebut contoh-di bawah matahari langsung selama 4 jam.

Padahal oleh sebagian pemain, sri rejeki-sri rejeki itu masih disayang-sayang di dalam rumah tanam yang nyaman. Dua bulan pascapenjemuran, anakan mulai bermunculan. Setelah anakan memiliki 2-3 daun, penjemuran dihentikan. Hasilnya, ‘Lihat nih sexy pink saya punya 15 anakan,’ kata Songgo. Reanita yang selama ini paling sulit beranak pun mengeluarkan 4 anakan.

Menurut pakar fisiologi tumbuhan Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MS, perlakuan ala Songgo dan Aseng sah-sah saja. ‘Paparan cahaya matahari langsung membuat proses transpirasi-penguapan, red-optimal. Berbarengan dengan itu pengangkutan nutrisi dari akar ke daun terdongkrak. Ujung-ujungnya proses fotosintesis di daun untuk menghasilkan karbohidrat yang dipakai tanaman tumbuh-termasuk menghasilkan anakan-maksimal,’ papar kepala Unit Kultur Jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB itu.

Apalagi intensitas cahaya matahari pagi belum merusak daun. Syaratnya ketersediaan air di media dan daun cukup. Pantas Aseng melengkapi rumah tanam di lantai 4 itu dengan instalasi penyiraman sistem kabut. Sebanyak 3 kali sehari selama 10 menit uap air menyembur dari mulut nozel. Hobiis diskus itu menambah penyiraman manual jika udara masih terasa panas. (baca: Pacu 15 Anakan dengan Sinar Matahari, halaman 30)

Pendapat Edhi setali 3 uang dengan Novi Satrya SHut MSi. Ahli kultur jaringan itu mengistilahkan terapi kejut untuk teknik penjemuran itu. ‘Tanaman yang semula diletakkan di tempat teduh kemudian tiba-tiba dijemur di matahari langsung akan terangsang mengeluarkan anakan,’ katanya. Namun, penjemuran bukan faktor satu-satunya. ‘Itu harus diimbangi dengan ketersediaan nutrisi yang cukup,’ lanjut master dari Institut Pertanian Bogor itu.

Songgo membenamkan campuran beberapa merek pupuk mengandung kalium tinggi dan unsur mikro-osmocot, TSP, MagampK, MiracleGro, dan Dynamite-setiap kali mengganti media. Aplikasi pupuk daun 1 kali sebulan. Pemupukan itu dibarengi dengan penggunaan media terfermentasi. Maksudnya, media-sekam mentah, sekam bakar, cocopeat, dan humus andam atau kaliandra-dimatangkan dengan direndam dalam air dan bakteri pengurai. Media fermentasi itu dicampur dengan pasir malang dan zeolit sebelum digunakan. ‘Media fermentasi sangat bagus buat tanaman. Nutrisi di media jadi lebih tersedia dan bisa langsung diserap,’ kata Novi.

Tidak ekonomis

Namun, memacu produksi anakan dengan teknik ‘lama’: setek, rajang batang, dan potong pucuk tidak salah. ‘Dengan seperti itu pun produktivitas tetap tinggi,’ ujar Ukay Saputra di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Dengan populasi 30.000 tanaman produksi anakan mencapai 2.000-3.000 pot per bulan. Anakan bisa dipanen setelah

5-6 bulan jika diperbanyak dengan potong pucuk. Dengan setek batang butuh waktu 5-9 bulan. Perhitungan Ukay teknik penjemuran-yang dilakukan manual dengan mengangkat pot ke lokasi terkena cahaya matahari langsung-hanya cocok untuk populasi terbatas. Jika jumlah aglaonema massal tidak ekonomis.

Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor, Jawa Barat, sepakat. ‘Tapi ini bisa diakali dengan meletakkan tanaman di area yang terkena sinar matahari langsung pada pukul 08.00-11.00. Jadi tidak perlu dipindah-pindahkan,’ ujar pemilik nurseri Wijaya itu. Itulah yang dilakukan Aseng.

Ukay dan Gunawan masih menggunakan media tanpa fermentasi. Hitung-hitungannya, media fermentasi hanya cocok untuk tanaman mahal. Untuk aglaonema kelas ‘murah’ penggunaan media fermentasi merugikan karena biaya produksi jadi tinggi. ‘Kalau memproduksi aglaonema kelas bawah media yang tepat adalah yang mudah, cepat didapat, dan murah,’ tuturnya. Media aglaonema mesti porous, ringan, dengan pH netral. Toh mereka mengakui, media fermentasi memang top untuk tanaman.

Lokal bandel

Sistem penjemuran ala Songgo dan Aseng diikuti pemain lain. Sebut saja Rocky Suryanto dan Adrian Pranatya Iskandar (Jakarta), serta Gatot Purwoko (Tangerang). Di kediaman Gatot Purwoko di bilangan Ciputat, Trubus melihat sepot berisi 2 adelia diletakkan di teras dekat dapur. Setiap pagi hingga siang hari aglaonema itu tersiram cahaya matahari. Kini masing-masing adelia mengeluarkan 6 dan 11 anakan. Ketua komunitas Aglaonema Indonesia itu juga mengganti jaring penaung berkerapatan 80% yang dibentangkan di atas rumah tanam dengan peneduh berkerapatan 60%. Maka ariana, hughes, sartika, angelina, arimbi, illumination, dan tamara lebih intens bermandi matahari. Rumah tanam Rocky mirip ‘gudang’ aglaonema Aseng-berselimut dinding plastik transparan.

Para pemain itu rata-rata membudidayakan sri rejeki hasil silangan Gregori Garnadi Hambali. Alasannya, ‘Lebih kuat dijemur,’ kata Songgo. Pengalaman Aseng, cochin yang diberi perlakuan sama justru layu dan tumbuh merana.

Lagipula untuk bisnis, harga silangan Greg masih di atas angin. Sebut saja tamara-pemegang rekor harga tertinggi saat ini: Rp20-juta per daun; astuti Rp10-juta per pot; dan hughes,

Rp4-juta-Rp5-juta per daun. Memang beberapa jenis harganya terkoreksi. Contohnya hot lady, widuri, dan tiara. Setengah tahun silam nilai jualnya Rp500.000-Rp1-juta per daun. Kini rata-rata Rp200.000-Rp400.000 per daun. Harga turun karena makin banyak pekebun yang membudidayakan. Toh nasibnya masih lebih baik ketimbang siam aurora (Rp25.000 per pot) dan legacy (Rp150.000 per pot)-sekadar menyebut contoh. Setahun lalu harga legacy masih Rp600.000-Rp1-juta per pot.

Di mata para pemain, penurunan harga itu bak 2 sisi mata uang. Penjualan di nurseri Wijaya merosot hingga 30%. ‘Sekarang sudah banyak yang bisa produksi legacy,’ kata Gunawan. Aglaonema asal Thailand itu andalan kebun di Sentul, Bogor, itu. William Bohar, pemain di Telukbetung, Lampung, menyebutkan penurunan transaksi di provinsi paling selatan di Sumatera itu hingga 60%. Di Surabaya kondisinya nyaris mati suri. Maklum ketika aglaonema tengah di atas tren pun hobiis di Kota Buaya itu tak banyak mengincar sri rejeki.

Kelas kakap

Di sisi lain hobiis baru justru bermunculan. Di Semarang, Jawa Tengah, sejak Desember 2008 Erna Yuniawati getol berbelanja aglaonema. Ia memburu sri rejeki idaman ke pameran-pameran di Kota Atlas, bahkan di Jakarta. Waktu Trubus temui di pameran tanaman hias di sebuah pusat perbelanjaan di Banyumanik, Semarang, pengusaha rumah makan itu baru membeli widuri dan arjuna senilai

Rp2,1-juta. ‘Karena sekarang harganya terjangkau jadi bisa beli,’ ujar Erna. Itu sejalan dengan yang diprediksi Ukay Saputra, Songgo Tjahaja, dan Gunawan Widjaya setahun silam. Harga turun tapi pangsa pasar semakin luas.

Muhammad Muamar Gadafie kini mendapat julukan ‘buyer of the year’ dari sebuah situs lelang tanaman hias. Musababnya pegawai kantor Bea Cukai Pelabuhan Tanjungmas, Semarang, itu sejak September 2008 kerap menjadi pemenang lelang. Dalam 3 bulan 40 pot dikoleksi. Sebut saja tiara, diana, dolores, sexy pink, stella, arjuna, mutiara, black legacy, dan black adelia. Total jenderal nilai aglaonema yang didapat dari lelang sekitar Rp33-juta.

Di Cirebon, Jawa Barat, Oping Sulistyo juga tengah gandrung pada anggota famili Araceae itu. Di lantai 2 kediaman, hobiis cupang dan anjing itu menata kresna, tiara, widuri, audrey, tamara, hot lady, srikandi, lipstik, dan turunan casanova. Pria yang mahir berbahasa Mandarin itu juga mengoleksi aglaonema mutasi. Sebut saja dud unyamanee berdaun kombinasi merah, putih, dan hijau serta widuri berdaun merah cerah.

Waktu Trubus berkunjung pada awal Maret 2009 Oping tengah menanti tambahan 4 pot audrey dengan total 100 daun. ‘Audrey itu bentuknya kompak. Andai sebuah lukisan komposisinya paling menawan,’ ujar Oping memuji silangan Greg berbatik merah muda cerah itu. Robert Suryakusuma dan Anugerah Firmanto, keduanya di Serpong, Kotamadya Tangerang Selatan, juga makin getol menambah koleksi. Sejak Agustus 2008 Robert mengumpulkan seri ruby, misal rubry mutiara, putri malu, dan rubi 15. Hobiis lain: Christian Hadirahardja, Dewi Maharani Darmastati dan Eko Yudianto-suami (Semarang).

Dunia maya

Ketika banyak yang menyebut dunia tanaman hias loyo-termasuk aglaonema-para hobiis pendatang baru itu justru langsung masuk ke sri rejeki kelas kakap. Gatot Purwoko mencatat penambahan pemain baru sejak 1 tahun terakhir. Indikasinya antara lain pada 2 kontes aglaonema terakhir di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, pada November 2008 dan Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, Maret 2009. ‘Jumlah partisipan di atas 100 peserta, kebanyakan pemain baru berusia muda,’ tutur pengusaha restoran itu. Banyak di antara mereka mengenal sri rejeki gara-gara penjelajahan di dunia maya-‘makanan sehari-hari’ kawula muda.

Meski baru, ilmu perawatan yang mereka miliki boleh diacungi jempol. Pantas bila pada kontes di TRW 10 aglaonema yang masuk nominasi Greg Hambali Award dimiliki orang-orang muda itu.

Munculnya generasi baru itu mengembuskan angin segar: bisnis aglaonema masih punya prospek. Misal penjualan dari nurseri Adrian selama 6 bulan terakhir justru melonjak: semula 20-30 pot menjadi 30-50 pot. Jenisnya tiara, hot lady, widuri, dan dolores. Pemain sri rejeki kelas bawah pun optimis. ‘Permintaan di Indonesia besar. Saya sendiri paling baru menyumbang 5% dari total permintaan,’ ujar Ukay. Yang pasti seperti kata Gunawan, jika mau ikut bermain hobiis dan pekebun mesti siap menghadapi siklus tren tanaman hias: sekali waktu harga di atas, kali lain turun ketika produksi massal. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Faiz Yajri, Imam Wiguna, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software