9 Bulan Tunggu Imigran Florida

Filed in Buah by on 01/05/2009 0 Comments

 

Itulah pengalaman pertama kali Prakoso memetik mamey sapote-nama buah itu-dari pohon umur 2,5 tahun di kebun. Ia tak tahu umur buah matang dari tanaman yang dikirim temannya, Maurice Kong, dari Florida, Amerika Serikat. Prakoso nekat memetik buah pada bulan ke-6 merujuk lengkeng Dimocarpus longan termasuk buah dengan umur petik lama, 4-6 bulan dari bunga mekar.

Nyatanya pada umur itu Pouteria sapota belum juga matang. Kejadian pada 2004 itu membuat Prakoso penasaran dan mencari informasi di dunia maya. Secuil informasi pun didapat, buah mamey sapote matang umur 9 bulan dari bunga.

Sangat padat

Sarjana Hukum pencinta tanaman buah itu lantas mengamati dan menghitung umur buah dengan memberi tanda. Benar saja, umur 9 bulan tanda-tanda matang muncul. Kulit di pangkal buah dekat tangkai mulai retak. Jika permukaan kulit buah dilukai dengan kuku tampak permukaan berwarna cokelat. ‘Bila masih hijau buah belum cukup matang,’ katanya.

Meski demikian, daging buah masih keras. Prakoso memetik dan memeram buah dalam suhu kamar. Tiga hari diperam, daging menjadi empuk. Bak menunggu kelahiran bayi, akhirnya setelah 9 bulan Prakoso bisa menikmati mamey sapote.

Menurut Edhi Sandra, pakar fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, daging buah mamey sapote padat dan keras sehingga proses pematangan lama. ‘Semakin tinggi kerapatan sel penyusun daging buah, maka makin besar jumlah energi yang diperlukan untuk matang,’ katanya.

Edhi juga menduga mamey sapote kaya karbohidrat kompleks seperti pati atau amilum. Buah lama matang karena proses pengubahan karbohidrat kompleks menjadi gula lebih sulit ketimbang karbohidrat sederhana, seperti fruktosa, galaktosa, sukrosa, dan laktosa. Dugaan Edhi memang belum diuji di laboratorium. Namun, tekstur mamey sapote mirip ubi yang kaya pati.

Klimaterik

Prakoso sengaja meninggalkan beberapa buah berumur 9 bulan tetap menggantung di batang. Ia berharap buah bisa matang pohon. Harapan itu musnah lantaran buah tua jatuh dengan kondisi keras. ‘Meski sudah 5 tahun berbuah, saya belum pernah jumpai mamey sapote matang pohon,’ ujar penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, itu.

Dr Ir Setyadjit MAppSc, peneliti buah dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat, menduga mamey sapote tergolong buah klimaterik. Artinya, buah mampu memproduksi etilen dalam jumlah besar untuk memicu kematangan. Etilen itulah yang mempercepat pengubahan karbohidrat menjadi gula, melunakkan daging buah, dan memecah klorofil kulit buah.

Buah klimaterik lazimnya kaya pati. Contohnya alpukat, pisang, mangga, dan apel. Karakter itu beda dengan jeruk, anggur, semangka, rambutan, dan buah nonklimaterik lain. Rasa manis buah nonklimaterik berasal dari sintesis tanaman membentuk gula. Pada buah klimaterik gula berasal dari perombakan pati.

Makanya tindakan Prakoso memetik mamey sapote lalu menyimpan dalam suhu kamar 20-30oC tepat. ‘Luka pada tangkai buah karena bekas petikan memicu produksi etilen,’ kata Setyadjit. Produksi etilen menurun pada suhu di atas 30oC dan berhenti pada suhu 40oC. Oksigen berlimpah pun menurunkan produksi etilen pada buah klimaterik. Makanya buah diperam di wadah tertutup agar oksigen minim.

Sepanjang tahun

Menurut Setyadjit, tangkai buah pada tanaman tertentu sangat peka etilen. Saat produksi etilen meningkat, tangkai buah sangat mudah patah. Apalagi jika tangkai buah kecil dan buahnya besar. Namun, bukan berarti buah klimaterik mustahil matang pohon. Buktinya pada pisang dan mangga sering dijumpai matang pohon.

Toh Prakoso justru tetap menikmati lamanya buah menempel di pohon. ‘Pohon jadi terlihat lebat terus-menerus,’ katanya. Setiap satu buah berukuran sekepal atau umur 2-3 bulan disusul buah baru sebesar kelereng. Pada tanaman berumur 7 tahun, ada 30 buah muncul bersamaan. Dan yang pasti, kini Prakoso tak pernah lagi kecele memanen mamey sapote. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Ari Chaidir)

Powered by WishList Member - Membership Software