5 Durian Top Andalan Pekebun

Filed in Majalah, Topik by on 01/02/2019

Durian ochee hasil panen kedua di kebun Josia Lazuardi di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

Lima durian top yang adaptif di luar habitatnya, bercita rasa manis sesuai selera pasar, daging buah tebal, warna menarik, dan produktif. Petani yang menanamnya mulai meraup laba.

Bambang Setia Adi menikmati ochee dari Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Bambang Setia Adi membelah buah durian ochee berbobot 3 kg. Ia menebus sebuah durian berjuluk si duri hitam itu Rp600.000. Warga Jakarta Timur itu penasaran akan cita rasanya. Begitu terbelah Durio zibethinus itu mengundang decak kagum. Daging buah ochee itu berwarna jingga pekat. “Rasanya lengket, manis, ada sedikit pahit, dan sangat creamy. Daging buahnya lumer di lidah, ditelen juga lumer, pokoknya enak banget,” tutur Bambang.

Durian ochee itu bukan berasal dari Malaysia, tetapi tumbuh di kebun milik Andri Mulya Purnama di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Bambang Setia Adi mengatakan, penampilan dan cita rasa durian ochee dari Serang itu hampir mirip dengan ochee di Malaysia. Ia kerap bolak-balik ke negeri bekas jajahan Inggris itu untuk mencicip durian ochee.

Laba besar

Menurut Andri buah ochee yang Bambang beli itu berasal dari pohon berumur 3,5 tahun. Ia menanam 50 bibit durian berkode D200 itu pada 2014. Dari populasi sebanyak itu baru 4 pohon yang berbuah. “Musim ini adalah berbuah perdana,” ujar pemilik Sahara Durian Farm (SDF) itu. Andri menduga pembuahan tidak serempak karena respons terhadap nutrisi dan kondisi iklim mikro yang berbeda. Andri berharap pohon-pohon ochee lain akan berbuah pada 2020.

Di lahan 15 hektare itu Andri juga menanam 60 bibit musang king pada 2014. “Saat ini baru satu pohon yang berbuah,” tutur alumnus Jurusan Fisika Universitas Padjadjaran itu. Sayangnya, pada awal Januari 2019, buah musang king belum ada yang jatuh sehingga belum dapat mencicipinya. Andri menanam kedua jenis durian introduksi itu lantaran penasaran dengan popularitas yang melambung di negeri jiran.

Tak disangka keduanya mampu berbuah meski hasilnya belum optimal. Andri menjual durian introduksi itu Rp200.000 per kg. Jika bobot per buah 3 kg, penggemar seperti Bambang Setia Adi mesti membayar Rp600.000.

Durian bawor disukai pekebun karena berdaging buah tebal. Pohon juga genjah, pada umur 3,5 tahun pohon berbuah perdana.

Andri juga mengandalkan sumber omzet dari durian bawor yang kini berumur 5 tahun. Ia mengebunkan bawor—sebagian orang menduga bawor itu jenis chanee asal Thailand—untuk mengganti pohon durian unggul lokal yang tumbuh tidak optimal. Andri memilih bawor lantaran banyak yang mengebunkan, terutama di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Durian bawor berbuah lebat di Sahara Durian Farm, Serang, Banten.

Kualitas buahnya relatif baik, berwarna daging buah menarik, yakni jingga, berdaging buah tebal, rasanya enak, dan produktif. Keempat hal itu merupakan ciri durian unggul atau top. Tanaman juga genjah, berbuah perdana pada umur 3,5 tahun. “Pada musim kali ini adalah buah yang kedua,” tutur Andri. Dari satu pohon bawor mampu menghasilkan 20—30 buah. Menurut Andri pendapatan menjual bawor tergolong menggiurkan.

 

Kini Andri menjual bawor Rp80.000 per kg langsung ke konsumen yang datang ke kedainya di area kebun. Bobot durian rata-rata 3 kg per buah. Jika setidaknya Andri mampu menjual separuhnya saja atau 10—15 buah, maka volume penjualan 30—45 kg per pohon. Andri meraup omzet Rp2,4 juta—Rp3,6 juta per pohon. Omzet itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi untuk setiap pohon yang hanya Rp300.000 per tahun untuk pohon besar dan Rp150.000 untuk pohon kecil.

Pantas Andri terus menambah populasi bawor hingga 1.000 pohon dari total 3.000 pohon durian yang tumbuh di kebunnya. Pria 32 tahun itu menuturkan, dari jumlah itu baru 400 pohon yang berbuah. Andri juga mengandalkan sumber omzet dari durian lokal yang tumbuh di lahan ketika dibeli dan durian unggul lokal hasil penanaman sendiri. Ia menjual durian lokal Rp60.000 per kg. Total jenderal Andri meraup omzet Rp15 juta per hari bila sedang musim durian. Musim durian jatuh pada Desember—April.

Beragam jenis

Beragam jenis durian seperti musang king, ochee, dan bawor menjadi varietas yang ramai dibudidayakan para pekebun pada 7 tahun terakhir. Jumlah pekebun ketiga jenis durian itu terus bertambah. Di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, ada Yanto Sodri yang mengebunkan 1.000 pohon durian bawor dan 200 pohon musang king pada 2014. Yanto menuturkan, dari jumlah itu baru 100 pohon bawor dan 2 pohon musang king yang berbuah.

Kedua varietas raja buah itu panen perdana pada Januari 2018. Karena baru belajar berbuah, produksi masih sedikit. “Setiap pohon rata-rata menghasilkan 9—14 buah,” tutur pria asal Desa Kalikangkung, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, itu. Ia menjual hasil panen kepada konsumen langsung yang datang ke kebun Rp80.000 per kg untuk montong orange—sebutan lain bawor di daerahnya. Adapun harga musang king Rp300.000 per kg. Yanto memprediksi, 1.200 pohon durian top itu berbuah serempak pada 2—3 tahun mendatang.

Durian musang king terbukti berbuah di 7 provinsi di Indonesia.

Pekebun durian di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Priyanto, juga memilih membudidayakan varietas bawor, musang king, dan ochee di kebunnya. Total ada 50 pohon musang king yang tumbuh di kebun seluas 7.500 m². Dari jumlah populasi itu 10 pohon di antaranya sudah berbuah. Umur pohon kini 4 tahun yang menghasilkan bisa mencapai 20 buah per tanaman. Ia juga menanam 60 bawor dan hampir semua berbuah. “Tapi jumlah buah masih sedikit, hanya 2—8 buah per pohon,” tuturnya. Adapun ochee hanya 2 pohon dan sudah berbuah.

Andri Mulya Purnama bersama ochee miliknya yang pertama kali berbuah di Banten.

Ia menjual bawor Rp60.000 per kg, sedangkan musang king dan ochee masing-masing Rp150.000 dan Rp250.000 per kg. Pekebun sejak 2014 itu tidak perlu pening memasarkan si raja buah. Harap mafhum, pembeli datang sendiri ke kebunnya.

Josia Lazuardi lebih dahulu meraup omzet dari mengebunkan 50 pohon ochee dan 150 musang king di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Umur pohon bervariasi, antara 4–8 tahun. Produksi per pohon mencapai 30 buah. “Yang dipertahankan hanya 10—15 buah per pohon,” tutur Josia. Dalam sekejap durian top itu ludes, para maniak memborongnya. Josia membanderol durian unggul itu Rp300.000—Rp350.000 per kg.

Jenis rekomendasi

Menurut pemasok buah premium di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, varietas musang king, ochee, dan bawor menjadi pilihan untuk dikebunkan secara komersial. “Ketiga jenis durian itu sudah jelas pasar dan harganya di pasaran,” ujar pemilik perusahaan Golden Agro itu. Ketiganya juga sudah terbukti dapat berbuah meski ditanam di luar daerah asalnya. Berdasarkan catatan Yayasan Durian Indonesia (YDI), musang king berbuah di berbagai daerah.

Para pekebun biasanya menjual hasil panen langsung di kebun.

Durian pendatang itu adaptif di Medan, Sumatera Utara, Pulau Kundur (Kepulauan Riau), Kabupaten Bogor (Jawa Barat), Karanganyar (Jawa Tengah), Brongkol, Kabupaten Semarang (Jawa Tengah), Serang (Banten), dan Kabupaten Malang, Batu, Blitar, dan Madiun—keempatnya di Jawa Timur. Tatang menyarankan, jika ingin berkebun durian pilihlah varietas yang sudah pasti kualitasnya.

Koleksi Priyanto Priyanto bersama musang king yang berbuah di kebunnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Periset di Balai Penelitian Tanaman Buah, Dr. Panca Jarot Santoso, S.P., M.Si., juga merekomendasikan musang king dan ochee karena sudah ada pasarnya. Namun, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menuturkan, untuk mendapatkan kualitas yang maksimal dari kedua jenis durian itu agak susah. “Pekebun harus mencari lokasi yang mirip dengan habitat asli kedua durian itu,” ujar Panca. Musang king, misalnya, di sentranya di Pahang, Malaysia, tumbuh di daerah berketinggian 300—500 meter di atas permukaan laut. “Di Indonesia terlalu banyak hujan sehingga agak berat mencapai kualitas durian seperti di daerah asalnya,” tuturnya.

Bawor juga dapat menjadi pilihan pekebun karena tergolong durian bagus. Buahnya berukuran besar seperti monthong dengan karakter warna dan kualitas daging buah lebih bagus daripada monthong. Namun, beberapa pekebun ada juga yang membudidayakan durian jenis lain selain musang king, ochee, dan bawor. Contohnya Aris di Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Ia lebih memilih menanam durian jenis D168 asal Malaysia.

Di kebun Aris tumbuh 20 pohon durian D168. Sepuluh pohon di antaranya berumur 10 tahun, sisanya 5 tahun. Semua sudah berbuah. “Warna daging buah jingga, konsumen pasti tertarik. Rasanya dominan manis dengan sedikit pahit,” ujar Iwan. Di kebun Aris D168 tergolong produktif. Sepohon durian bisa menghasilkan 50 buah. Ia menjual hasil panen kepada kerabat dan kolega Rp150.000—Rp200.000 per buah, tergantung bobot.

Panca menyarankan pekebun sebaiknya menanam lebih dari satu jenis durian dalam satu kebun. Misalnya 70% populasi terdiri atas musang king dan bawor. Selebihnya atau 30% berupa beragam jenis durian lain seperti pelangi manokwari. Gradasi warna salah satu keunikan durian itu sehingga berbeda dengan jenis lainnya.

Tujuan kombinasi itu agar kebun memiliki ciri khas yang membedakan dengan kebun sejenis. Durian pelangi juga terbukti berbuah di luar habitat. Lihat saja di kebun I Ketut Kari di Desa Ogorandu, Kecamatan Bolanolambunu, Kabupaten Parigimoutong, Sulawesi Tengah. Ia mengebunkan durian pelangi pada 2013. Tanaman berumur 4,5 tahun itu berbuah perdana pada 2018 ketika berumur 3,5 tahun. Namun, cita rasa buah belum sama persis dengan pelangi di Manokwari. Pekebun pelangi lain adalah Tirto di Mojokerto, Jawa Timur.

Sarat aral

Menurut ahli durian dari Yayasan Durian Nusantara (YDN), Dr. Mohamad Reza Tirtawinata, bila pekebun ingin menanam durian lokal, sebaiknya tanam yang terbaik di daerah sentra produksi masing-masing.

Salah satu daerah yang mengembangkan konsep itu adalah di Balaikarangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Di sana para pekebun menanam durian jawara kontes seperti sirombut. Di Banyuwangi, Jawa Timur, ada Eko Mulyanto yang mengembangkan durian merah banyuwangi dengan konsep serupa. Namun, berkebun durian banyak aral. Hingga kini pekebun banyak menghadapi kendala.

Menanam jenis durian unggul tak menjamin menghasilkan buah yang bagus (baca Cegah Perongrong Raja Buah halaman 18—19). Varietas unggul dengan pemupukan yang baik pun ternyata belum menjamin menghasilkan 100% buah berkualitas baik.

Koleksi : Yanto Sodri. Yanto Sodri mengebunkan 1.000 pohon durian bawor dan 200 pohon musang king di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Tatang Halim pernah mengalami hal itu. Pohon chanee berumur 5 tahun di kebunnya sedang belajar berbuah. Kondisi pohon sehat tidak kekurangan daun. Pertumbuhan buahnya juga sesuai umurnya. Namun, begitu ada buah yang jatuh, daging buah tidak matang merata. “Sebagian daging buahnya kering. Ini pohon kedua yang mempunyai masalah yang sama,” tutur pria berambut panjang itu.

Pekebun juga mesti mengeluarkan biaya investasi tinggi untuk irigasi. Harap mafhum, sumber air sangat penting bila berkebun durian.
Bila tidak ada sumber air alami, pekebun harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk membangun embung atau mesin pompa air untuk mengalirkan air dari sumber air terdekat. Hama dan penyakit seperti hama penggerek buah dan batang masih menjadi ancaman. Begitu juga dengan penyakit kanker batang.

Seandainya seluruh kendala itu dapat diatasi, maka meraup laba dari durian bukan sekadar impian. Beberapa durian yang terbukti adaptif: musang king, ochee, pelangi, dan bawor, dan D168. Itulah 5 durian top yang ditunggu pasar. (Imam Wiguna/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Mempertahankan Mutu Monthong

Selama ini ada anggapan bila durian monthong tak lagi menjadi varietas anjuran untuk para pekebun. Pasalnya, banyak pekebun yang mengeluhkan daging buah monthong sering kali tidak matang sempurna. Sebagian daging buah mengkal walaupun buah jatuhan. Meski demikian, Johan Ariono bergeming mempertahankan durian monthong pada 2000. Kebun Johan di Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Di sana tumbuh 70 pohon monthong berumur 18 tahun. Hingga kini pohon masih berproduksi tinggi. Dari setiap pohon Johan rata-rata memanen 50—100 buah per musim. Ia menjual hasil panen Rp45.000 per kg. Harga itu lebih murah daripada harga durian sejenis di pasar swalayan yang minimal Rp65.000 per kg. Ia berani melepas murah lantaran menjual durian langsung di kebun.

Artinya ia bebas dari biaya pengangkutan sekaligus risiko buah rusak saat pengiriman. Meski berharga murah bukan berarti buah berkualitas rendah. Johan hanya menjual buah durian monthong matang pohon sehingga terjamin kelezatannya. Itulah sebabnya para pengunjung merasa sangat puas menikmati durian di kebun Johan. Harap mafhum, Johan memang melakukan perawatan khusus untuk menghasilkan buah bermutu bagus.

Sebagai sumber nutrisi ia memberikan pupuk NPK organik berimbang setiap kali selesai panen dengan dosis 3—4 kg per pohon. Pupuk diberikan dengan menggali lubang mengelilingi batang pohon di bawah kanopi terluar. Pemupukan selanjutnya menjelang waktu berbunga yaitu 3—4 bulan setelah pemupukan pertama. Ia memberikan pupuk melalui akar dan daun.

Pupuk melalui akar berupa fosfat organik 3—4 kg per pohon dan NPK Trace Element (TE) 1—2 kg per pohon. Ia juga memberikan pupuk daun berupa larutan KNO3 berkonsentrasi 150—200 gram per 20 liter air. Pupuk daun lainnya adalah pupuk fosfor dan kalium organik berkonsentrasi 1—2 ml pupuk per liter air atau fosfor dan kalium kimia berkonsentrasi 100 gram pupuk per 20 liter air. Pemupukan daun dilakukan dengan cara disemprot. (Imam Wiguna)

Tags: , , , , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software